Tentang Rasa Ingin Tahu yang Berlebihan
Berawal dari siang itu saya sedang scroll Tiktok dan ketemu content dari Yura Yunita dimana dia menanyakan sebuah pertanyaan ke ChatGPT. Pertanyaan dia di kontennya adalah “What’s my curse? Don’t explain too much.”
Tanpa pikir panjang, saya langsung buka ChatGPT dan menanyakan pertanyaan serupa. Jawaban ChatGPT membuat saya termenung. Langsung menusuk ke otak dan pikiran. Respon pertama adalah, “Iya gitu?”, seolah menolak apa yang ChatGPT berikan.
Karena background saya IT maka sudah tentu tahu sekali kalau ChatGPT akan mengenal kita semakin lama dan semakin sering bertanya. Jadi tanpa kita sadari ChatGPT pasti tahu karakter kita dilihat dari pertanyaan-pertanyaan yang sering ditanyakan.

Kalau saya menolak “curse” tersebut dan gak percaya jawaban dari ChatGPT, harusnya saya tutup browsernya dan lupakan.
Tapi yang terjadi malah saya tanya lagi dan lagi, sampai pada akhirnya saya menyadari kalau saya mengamini jawaban dari ChatGPT. Ternyata betul. Kutukan saya adalah terlalu ingin tahu (curious) sampai pada titik yang sebetulnya saya tidak perlu tahu saat itu.

Saya balik tanya lagi, bukankah itu bagus ya, malah jadi semacam gift. Karena gak semua orang punya rasa ingin tahu (curiosity) yang besar.
Memang benar itu termasuk gift. Asalkan gak berlebihan. Ternyata rasa ingin tahu saya itu terlalu berlebihan, dimana memang saya sadari betul kalau misal belum jelas semuanya saya akan gali terus sampai terasa paham betul dan puas.
Efeknya adalah pikiran jadi habis energinya untuk memfasilitasi rasa ingin tahu tersebut. Akhirnya ke fisik jadi lelah dan berujung malas melakukan kegiatan lainnya. Saya awalnya ragu ini ada korelasinya, tapi kata ChatGPT memang benar seperti itu.
Kalau diibaratkan korek api, rasa ingin tahu itu yang menyalakan koreknya jadi api. Semakin lama kita pegang koreknya, apinya tetap menyala, tapi lama-lama akan habis juga kayunya dan padam. Atau bahkan apinya malah menyakiti tangan kita sendiri.
Harusnya pas koreknya dinyalakan dan apinya menyala, tunggu sampai agak besar dan aman (gak padam). Lalu pindahkan apinya ke medium lain misalnya kayu bakar atau kompor. Jadi apinya terfasilitasi dan mungkin bisa lebih awet karena sudah pindah medium.
Begitu juga dengan rasa ingin tahu. Kita butuh percikan-percikan api tersebut, tapi secukupnya saja. Tidak perlu kita harus sampai tahu sampai kedasar-dasarnya.
Kembali ke ChatGPT, saya tanyakan lagi solusi praktisnya apa. Menurutnya, kita gak bisa kontrol rasa ingin tahu, kita hanya bisa memfasilitasinya saja.

Jadi saat kita dapat percikan rasa ingin tahu, sebaiknya disalurkan ke medium lain dalam bentuk creation, konten misalnya. Mau bentuknya tulisan, audio, video, sketsa atau apapun itu. Intinya adalah energi dari rasa ingin tahunya bisa disalurkan.
Ini akan mengerem rasa ingin tahu yang berlebihan, sekaligus bisa mengeluarkan rasa penasarannya kedalam bentuk lain yang lebih nyata. Jadi dipikiran akan lebih ringan, ini yang saya rasakan.
Untuk alasan itulah blog ini dibuat. Selain memang dari dulu saya ingin menulis di blog, ini juga bisa jadi tempat untuk menumpahkan semua rasa ingin tahu yang kalau dipikir-pikir selalu terjadi setiap hari.
Tentu itu bukan alasan utama. Alasan lainnya adalah saya ingin membangun aset-aset digital di blog ini yang harapannya suatu saat nanti bisa menghasilkan uang dan tujuan bebas finansialnya bisa segera tercapai.
Aamiin.
