Membedakan Batu Bara Thermal dan Batu Bara Metalurgi

Konten Halaman

Kenapa Saya Belajar Ini

Beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang dua emiten batu bara: AADI dan ADMR.

Sekilas, keduanya sama-sama bergerak di bidang tambang batu bara. Tapi setelah dicari tahu lebih dalam, ternyata fokus produksinya berbeda.

AADI menghasilkan batu bara thermal, sementara ADMR memproduksi batu bara metalurgi. Dari situ saya mulai penasaran, apa bedanya kedua jenis batu bara ini, dan kenapa penting dibedakan?


Apa yang Saya Pelajari

Ternyata, perbedaan utamanya ada pada fungsi dan kandungan karbonnya.

Batu bara thermal digunakan untuk menghasilkan panas di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dari situ, panas diubah jadi uap, lalu menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.

Jenis batu bara ini tidak membutuhkan kandungan karbon yang terlalu tinggi, yang penting nilai kalorinya cukup dan kadar belerangnya tidak berlebihan.

Sedangkan batu bara metalurgi (atau sering disebut coking coal) digunakan di industri baja.

Batu bara jenis ini tidak dibakar langsung, tapi diproses terlebih dulu menjadi kokas (coke) yang dipakai untuk mengubah bijih besi menjadi baja. Karena prosesnya berbeda, batu bara metalurgi harus punya kandungan karbon tinggi dan kadar abu yang rendah.

Dari sisi harga, batu bara metalurgi biasanya lebih mahal dibanding thermal, karena lebih langka dan punya standar kualitas khusus untuk industri baja.

Selain itu, AADI memang fokus di batu bara thermal yang dikirim ke pembangkit listrik di dalam negeri dan ekspor ke negara seperti Vietnam atau Filipina.

Sementara ADMR, yang masih satu grup dengan Adaro (ADRO), fokus di batu bara metalurgi untuk pasar baja global.


Insight

Setelah memahami bedanya, saya jadi melihat arah industrinya juga berbeda.

Batu bara thermal lebih sensitif terhadap isu transisi energi. Banyak negara, termasuk Indonesia, mulai melakukan phase-out PLTU, artinya secara bertahap akan mengurangi dan menghentikan penggunaan batu bara untuk pembangkit listrik.

Ini sejalan dengan target emisi net-zero di masa depan dan dorongan untuk beralih ke energi baru terbarukan (EBT) seperti tenaga surya, angin, dan air.

Sementara batu bara metalurgi masih akan bertahan lebih lama. Produksi baja masih sangat bergantung pada kokas dari batu bara ini, dan sampai sekarang belum ada pengganti yang benar-benar komersial dan efisien. Meskipun arah industrinya juga mulai menuju “green steel” berbasis hidrogen, tapi itu masih tahap awal.

Jadi, bisa dibilang batu bara thermal dan metalurgi hidup di dua dunia yang berbeda: yang satu sedang dipersiapkan untuk pensiun, sementara yang satunya masih dibutuhkan untuk membangun masa depan, termasuk infrastruktur energi hijau itu sendiri.