Mengenal Saham Treasury: Nasib Saham Hasil Buyback Setelah Dibeli Emiten
Kenapa Saya Belajar Ini
Setelah memahami tentang buyback saham, saya penasaran: setelah emiten membeli kembali sahamnya sendiri, lalu apa yang terjadi dengan saham-saham itu?
Apakah langsung dibatalkan? Atau disimpan? Ternyata istilahnya adalah saham treasury, dan di sinilah saya mulai ingin tahu lebih jauh bagaimana “nasib” saham-saham hasil buyback itu dikelola oleh perusahaan.
Apa yang Saya Pelajari
Saham treasury adalah saham yang dibeli kembali oleh emiten dari pasar dan disimpan oleh perusahaan. Secara akuntansi, saham ini tidak lagi dianggap beredar di publik, sehingga jumlah saham beredar berkurang, dan otomatis bisa menaikkan laba per saham (EPS).
Ada beberapa karakteristik penting dari saham treasury yang saya pelajari:
- Saham treasury tidak memiliki hak suara di RUPS.
- Tidak berhak atas dividen.
- Mengurangi jumlah saham beredar dan free float di pasar.
Menurut aturan Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten tidak boleh menahan saham treasury terlalu lama. Maksimal jangka waktunya adalah tiga tahun sejak tanggal pembelian terakhir.
Setelah itu, perusahaan wajib mengambil tindakan terhadap saham tersebut. Jika lewat dari tiga tahun dan tidak ada keputusan, bisa terkena sanksi dari BEI.
Selama periode itu, ada beberapa opsi yang bisa dilakukan emiten:
Menjual kembali ke publik.
Saham treasury bisa dijual lagi ke pasar. Jika ini dilakukan, jumlah saham beredar akan bertambah kembali seperti semula.Menjualnya ke program ESOP/MESOP.
Biasanya dijual ke karyawan atau manajemen dengan harga diskon sebagai bentuk insentif. Aksi ini tidak menambah saham publik karena masih dalam lingkup internal.Membatalkannya (cancellation).
Jika dibatalkan, saham treasury tersebut benar-benar hilang dari peredaran, sehingga total saham perusahaan berkurang secara permanen.
Dari yang saya baca, banyak emiten memilih untuk “menyimpan” saham treasury dulu selama 1–2 tahun sebagai antisipasi. Baru menjelang tahun ketiga, mereka biasanya memutuskan pembatalan.
Ini cukup masuk akal karena pembatalan hanya dilakukan jika kondisi keuangan perusahaan memang kuat dan mereka yakin tidak akan membutuhkan tambahan modal dalam waktu dekat.
Insight
Saya melihat bahwa keputusan terhadap saham treasury bisa jadi cerminan dari kepercayaan diri manajemen terhadap prospek perusahaan.
Kalau mereka memilih untuk membatalkan saham treasury, artinya mereka tidak berniat menjualnya lagi dan benar-benar ingin mengurangi jumlah saham beredar secara permanen.
Ini bisa menjadi sinyal positif bagi investor, karena pembatalan berarti setiap lembar saham yang beredar menjadi “lebih berharga” secara proporsional terhadap laba perusahaan.
Jadi, memahami saham treasury ternyata tidak hanya soal teknis aturan BEI, tapi juga soal membaca keyakinan perusahaan terhadap dirinya sendiri.
