Belajar Tentang Waran Dari IPO PJHB
Kenapa Saya Belajar Ini
Saya sedang scroll Instagram ketika muncul postingan tentang waran dari emiten PJHB yang baru saja melakukan IPO. Katanya harga warannya naik berkali-kali lipat dalam waktu singkat.
Sebagai seorang yang masih belajar dunia saham, tentu saya penasaran, apa sebenarnya waran itu? Kenapa bisa naik begitu cepat, dan apa hubungannya dengan saham induknya?
Saya pun mulai cari tahu dari prospektus IPO dan beberapa sumber yang menjelaskan mekanismenya.
Apa yang Saya Pelajari
Ternyata, waran itu bukan saham, melainkan hak untuk membeli saham baru di masa depan dengan harga tertentu.
Biasanya waran diterbitkan bersamaan dengan IPO sebagai bonus agar investor tertarik ikut membeli saham perdana.
Misalnya, pada kasus PJHB, rasio pembagian warannya adalah 2:1. Artinya, setiap membeli 2 saham PJHB saat IPO, investor akan mendapatkan 1 waran secara gratis. Waran ini tidak bisa langsung digunakan karena ada masa tunggu (biasanya 6–12 bulan setelah IPO), dan memiliki masa berlaku (expired) sekitar 1–2 tahun setelah diterbitkan.
Selama periode itu, investor bisa memilih:
- Menebus warannya, membeli saham baru dengan harga yang sudah ditentukan saat IPO (disebut harga pelaksanaan).
- Menjual warannya di pasar, karena waran juga bisa diperjualbelikan di bursa dengan kode khusus, misalnya
PJHB-W.
Waran baru punya nilai jika harga saham induknya naik di atas harga pelaksanaan.
Misalnya, jika harga IPO PJHB Rp100 dan harga pelaksanaan warannya Rp120, maka waran hanya menarik jika harga saham di pasar naik di atas Rp120. Kalau harga sahamnya turun di bawah itu, waran jadi tidak bernilai dan biasanya dibiarkan sampai expired.
Insight
Dari sini saya baru paham kenapa waran sering disebut “bonus menarik” bagi investor IPO.
Bagi emiten, waran membantu menarik minat investor karena memberikan potensi keuntungan tambahan di masa depan.
Bagi investor, waran bisa jadi peluang untuk membeli saham di harga IPO atau bahkan meraih untung jika harga sahamnya melonjak dan waran ikut naik.
Namun di sisi lain, waran juga punya resiko. Kalau saham induknya stagnan atau turun, waran bisa jadi tidak bernilai sama sekali.
Jadi, meskipun terlihat seperti bonus, sebenarnya waran tetap butuh pemahaman dan strategi agar bisa dimanfaatkan dengan baik.
