Belajar dari Emiten SICO dan Isu Flare Gas di Industri Migas
Kenapa Saya Belajar Ini
Awalnya saya sedang screening emiten di Stockbit, mencari perusahaan small cap yang rutin membagikan dividen tapi harganya masih murah.
Dari hasil penyaringan itu, muncullah nama SICO (Sigma Energy Compressindo Tbk) di posisi teratas, dengan harga sekitar 134 per lembar. Dari situ saya mulai penasaran: perusahaan sekecil ini, tapi bisa rutin bagi dividen. Bisnis apakah yang mereka kerjakan?
Ketika saya buka profilnya, ternyata SICO bergerak di bidang energi, tepatnya menyediakan solusi untuk pengelolaan flare gas di industri minyak dan gas. Saya langsung tertarik, karena topik ini bersinggungan dengan isu lingkungan yang sedang ramai: pengurangan emisi karbon dan efisiensi energi.
Apa yang Saya Pelajari
Ternyata, flare gas adalah gas buang hasil dari proses produksi migas yang biasanya dibakar begitu saja di menara flare. Pembakaran ini menghasilkan emisi karbon yang besar dan berdampak buruk bagi lingkungan. Awalnya gas tersebut memang tidak bisa dimanfaatkan lagi, tapi ternyata ada teknologi untuk “menangkap” dan mengolahnya kembali.
Nah, di sinilah posisi SICO menarik. Mereka menyewakan alat untuk memproses flare gas agar bisa dimanfaatkan ulang untuk keperluan lain. Beberapa perusahaan migas besar seperti Pertamina pun menggunakan jasa seperti ini untuk mengurangi gas buangnya.
Selain itu, SICO juga punya anak usaha lain yang mengoperasikan SPBU dengan merek Shell, jadi bisnisnya tidak hanya fokus pada sewa alat energi tapi juga distribusi BBM eceran. Model bisnisnya cukup beragam tapi tetap dalam rantai energi.
Di sisi lain, upaya pengurangan flare gas ini juga sejalan dengan target pemerintah Indonesia yang berkomitmen mencapai Net Zero Emission pada tahun 2060. Jadi, perusahaan seperti SICO punya posisi strategis dalam rantai solusi menuju transisi energi yang lebih bersih.
Insight
Menarik sekali menemukan sebuah perusahaan dengan model bisnis seperti ini. Awalnya saya cuma mencari emiten pembagi dividen, tapi malah belajar tentang bagaimana teknologi bisa ikut menyelesaikan masalah lingkungan.
Saya juga jadi lebih sadar kalau ternyata banyak hal di dunia migas yang masih belum saya pahami. Siapa yang sangka, ada bisnis yang fokus menyewakan alat untuk mengurangi flare gas, dan itu justru jadi peluang yang penting.
Mungkin bagi perusahaan besar seperti Pertamina, menyewa lebih efisien daripada harus mengembangkan sendiri teknologinya. Biaya operasional bertambah sedikit, tapi dampaknya bagus baik untuk citra perusahaan maupun untuk lingkungan.
Kadang belajar dari hal kecil seperti ini justru membuka pandangan baru. Dari sekadar mencari saham murah, saya jadi melihat sisi lain dari bisnis energi yang ternyata tidak selalu soal eksploitasi sumber daya, tapi juga soal inovasi untuk menjaga bumi tetap bernafas.
